Perlunya Pembatasan Waktu Gawai buat Anak, Berapa Idealnya?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku, Reisa Broto Asmoro, menegaskan orang tua harus bisa membagi waktu anak-anak pada saat bermain gawai selama pandemi COVID-19.

“Kalau online kita hanya memanfaatkan gadget untuk komunikasi. Tapi kalau di luar waktu sekolah, ini yang harus hati-hati. Jangan sampai cara instan untuk menghibur anak jadi berlebihan. Jadi, harus dibatasi dan dikasih break,” kata Reisa dalam bincang-bincang bersama Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) secara daring di Jakarta, Senin, 26 Juli 2021.

Semua aktivitas belajar mengajar pada anak di Indonesia dilakukan secara daring dengan memanfaatkan berbagai macam teknologi yang ada selama masa pandemi COVID-19. Karena itu, Reisa menyarankan orang tua untuk membagi waktu anak saat menggunakan gawai ke dalam beberapa sesi.

“Misalnya, 120 menit waktunya sehari di luar jadwal sekolah, tapi dikasih sesi-sesi jeda. Misalnya tiga kali sesi, jadi setiap 40 menit break dulu. Nanti, 40 menit lagi baru mengerjakan yang lain, setelah itu baru boleh gadget lagi,” kata Reisa.

Ia tidak menyarankan anak yang berusia di bawah 2 tahun boleh bermain gawai. Sedangkan untuk balita, orang tua harus benar-benar memberikan pendampingan penuh saat anak bermain karena membutuhkan barang-barang yang nyata untuk bermain.

“Anak-anak umur di bawah 18 tahun harus menjalankan sekolah online. Dalam situasi tersebut, harus ada kesepakatan yang bisa disesuaikan dengan jadwal pembelajaran online setiap harinya,” jelasnya.

Reisa mengatakan sebenarnya gawai dapat memberikan dampak yang positif bagi anak-anak. Namun, anak tetap perlu diawasi saat memainkannya.

Kemudian, di masa PPKM Level 4, ia mengimbau orang tua tidak membawa anak keluar rumah mengingat tingginya kasus COVID-19 saat ini.

“Saat ini untuk Jabodetabek sendiri dan beberapa kota kabupaten yang lain di Indonesia, kita tahu banyak yang berada di level 4 dan level 3. Tentunya dalam situasi ini anak tidak diperbolehkan keluar rumah, jadi disarankan di rumah saja,” ujar Reisa.

Ia mangatakan orang tua dapat membuat jadwal aktivitas keluarga untuk dilakukan bersama. Buat kesepakatan supaya anak maupun orang tua nyaman menjalani hari-hari di masa sulit ini.

“Anak harus dilibatkan dalam proses pembuatan jadwal yang enak dalam kegiatan sehari-hari,” katanya.

Bila memungkinkan, Reisa menyarankan orang tua untuk membawa anak ke alam terbuka yang tidak terlalu banyak orang. Namun bila tidak, orang tua dapat memperkenalkan anak dengan permainan tradisional atau memanfaatkan peralatan-peralatan yang ada di rumah untuk meningkatkan imajinasi.

“Kalau situasinya tidak memungkinkan, di rumah saja. Di rumah juga bisa menyenangkan asal bisa menyiapkan situasi di rumah itu dengan baik. Misal, dengan bermain. Dikenalkan dengan permainan tradisional atau dengan peralatan rumah. Peralatan rumah bisa untuk meningkatkan imajinasi anak dan bisa jadi alternatif bermain yang menyenangkan,” papar Reisa.

Selain melakukan kegiatan bersama, ia menegaskan agar orang tua dapat lebih mengontrol emosi agar dapat membangun komunikasi yang lebih baik bersama anak. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan anak, baik secara fisik ataupun mental, dan terhindar dari perubahan perilaku yang tidak diinginkan, seperti emosi anak yang berubah-ubah dan menarik diri dari lingkungan.

“Penting bagi orang tua agar bersama-sama memahami kondisi pandemi ini bersama anak dan anggota keluarga. Jadi, harus punya komunikasi dengan anak yang baik, dan jadikan momen bersama di rumah ini menjadi momen untuk bonding,” katanya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.